CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 23 Agustus 2011

LAPORAN 17 Agustus 2011


LAPORAN PENUGASAN
Rubrik            :           Simpul Utama
Masalah          :           Penulis Perempuan
Angle              :           Bagaimana sebenarnya kinerja penulis perempuan itu?
Narasumber   :           Sylvia L’ Namira
Oleh                :           Winda Destiana
Penulis perempuan tiba-tiba menjadi “sesuatu” manakala nama Ayu Utami muncul ke pentas sastra Indonesia. Kehadirannya itu memicu (kembali) sebuah istilah: “penulis atau sastrawan perempuan”. Sebab, setelah Ayu, kemudian muncul sejumlah nama perempuan lainnya di arena kesusastraan Indonesia. Mulai dari Ayu Nadia, Dewi Lestari, Jenar Ayu, dan sejumlah nama perempuan lainnya.

Namanya mungkin baru beredar pada era 2000an, namun karya yang dihasilkan cukup mampu membuat namanya dikenal sebagai salah satu penulis perempuan tangguh dengan karya nya yang bertajuk La Tahzan for Single Mothers. Berhalangan untuk ditemui, Syl panggilan akrab dari Sylvia membagi kisahnya melalui surat elektronik, Rabu 17 Agustus 2011.

Apa sebetulnya yang mendorong Anda menulis fiksi?
Awalnya yang mendorong saya adalah kesukaan saya pada fiksi itu sendiri. Saya sangat suka membaca cerpen, novel, atau cerita-cerita bersambung di koran atau majalah, dan mungkin juga dengan lingkungan kerja saya yang dikelilingi buku-buku (saya seorang pustakawan) ikut mendorong saya untuk menulis.

 Apa hambatannya?
Hambatannya mungkin hampir sama dengan penulis-penulis yang lain ya. Yaitu bila ide sedang mentok, karakter tidak berkembang, jalan cerita terlalu klise, dan lain sebagainya. Tapi itu semua bisa kok diatasi dengan brain storming, diskusi, dan banyak membaca.

Bagaimana pertama kali Anda memulai karier Anda sebagai penulis ini?
Awalnya saya menuliskan cerpen saya di sebuah blog, lalu sebuah penerbit ternyata membacanya, dan menawarkan saya untuk mengembangkan cerpen itu menjadi sebuah novel, karena penerbit tersebut melihat potensi cerita yang mungkin unik dan menarik untuk digali lebih lanjut. Selanjutnya, saya ketagihan deh, jadi ingin menulis lagi dan lagi.

Bagaimana suka dukanya?
Sukanya banyak yaa... saat dikabari bahwa naskah saya sedang diedit saja saya sudah gembira sekali, apalagi saat dikabari bahwa naskah sedang dicetak, lalu diterbitkan, waaahhh bukan alang kepalang gembiranya. Dukanya hampir tidak ada, karena saya benar-benar bersemangat saat itu. Bayangkan, menulis novel saya sendiri! Kapan saya sempat berduka, ya kan?

Apa novel pertama Anda dan yang paling berkesan? Bisa diceritakan secara mendetail sampai proses penerbitannya?
Novel pertama saya berjudul Mi Familia, yang diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House. Yang paling berkesan justru bukan novel, tapi karya nonfiksi saya yang terbit setelahnya. Buku itu berjudul La Tahzan for Single Mothers. Berkesan karena isinya tentang sharing pengalaman hidup sebagai seorang single mother. Di dalam buku tersebut juga berisi sharing teman-teman yang mengalami hal yang sama, yaitu hidup sebagai orang tua tunggal.

Apa pendapat Anda tentang sastra Indonesia? Tentang karya fiksi Indonesia?
Karya sastra Indonesia kini makin berkembang, dan banyak penulis-penulis muda yang menghasilkan karya yang bagus dan bermutu, begitu pun dengan karya fiksinya. Ide-ide kreatif banyak dihasilkan oleh penulis sekarang, yang menyentuh budaya lokal dan memperkenalkan kekayaan alam negeri kita Indonesia. Sangat bagus! Dan saya rasa sastra dan fiksi Indonesia akan makin berkembang di masa depan. Bahkan tidak mustahil, karya sastra Indonesia dikenal dengan baik bahkan dijadikan perbandingan studi di luar negeri. Bisa jadi kan?

Ada yang bilang, perempuan lebih dekat dengan sastra ketimbang laki-laki, bagaimana menurut Anda sendiri?
Menurut saya itu tidak benar ya. Perempuan atau laki-laki sama dekatnya dalam hal sastra. Ini kan masalah selera saja. Karena bagi saya, sastra tidak mengenal gender.

Siapa pengarang yang berpengaruh pada dunia kepenulisan Anda? Mengapa?
Saya menyukai penulis-penulis chiclit, baik dalam maupun luar negeri, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena banyak karya yang saya sudah baca dan saya suka. Saya menyukai chiclit karena memang saya penggemar kisah-kisah ringan dan manis seperti itu.

Pendapat Anda tentang sastra perempuan atau perempuan bersastra?
Perempuan bersastra bagi saya luar biasa. Karya-karya sastra perempuan sekarang sudah bisa disandingkan dengan karya sastra mana pun.

Bagaimana tentang pembaca Indonesia?
Pembaca Indonesia sudah bagus, namun sayangnya masih terbatas pada pembaca-pembaca di kota saja. Saya sangat menyayangkan pembaca di daerah terpencil yang belum tersentuh pendidikan. Jangankan menikmati menjadi pembaca, pendidikan yang layakpun belum bisa mereka rasakan. Padahal sebenarnya jika ada perpustakaan keliling yang koleksi bukunya menarik untuk masing-masing level minat baca (misal, buku bergambar untuk anak TK dan SD, novel ringan untuk anak SMP dan SMA) pasti semua akan suka membaca.

Apakah aktivitas bersastra bisa diandalkan untuk hidup?
Bisa saja, jika memang karya sastranya sudah dikenal banyak orang, bahkan ditunggu-tunggu terbitnya, kenapa tidak?

0 komentar:

Poskan Komentar