CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 23 Agustus 2011

LAPORAN 11 Agustus 2011


LAPORAN PENUGASAN
Rubrik            :           Politik
Masalah          :           Negara Gagal? Menjawab Tugas Sejarah Pemuda Indonesia
Angle              :           Suasana Pada saat Diskusi DPP Garda Pemuda Nasdem                                                berlangsung
Sumber           :           Pengamatan dan release
Oleh                :           Winda Destiana
Negara Gagal? Menjawab Tugas Sejarah Pemuda Indonesia, menjadi tema dalam diskusi rutin yang diadakan oleh Garda Pemuda Nasdem pada hari Kamis, 11 Agustus 2011 bertempat di Kantor DPP Garda Pemuda Nasdem, Jl. RP Soeroso no. 42, Gondangdia Lama, Menteng Jakarta-Pusat. Acara diawali dengan buka bersama dengan para pengurus DPP Garda Pemuda Nasdem, DPP Ormas Nasdem, DPP Partai Nasdem, pengurus Garda Wanita Nasional Demokrat, para undangan dari Organisasi Kepemudaan Nasional, dan para undangan lain. Dengan para pembicara Guntur Romli (Salihara), Usman Hamid (Kontras & ICJT), dan Saiful Haq (Sekjen Garda Pemuda Nasdem).

Berbagai masalah intoleransi tak kunjung sirna mendera bangsa ini. Tumbuhnya kelompok-kelompok sektarian seakan-akan tak mampu diatasi dan dibendung oleh Negara yang katanya berasaskan Pancasila. Pembakaran gereja di Riau, aksi kekerasan yang terjadi di Papua, hanyalah dua dari banyak kasus di Negeri ini, dimana Negara secara telanjang dipermalukan, seakan lumpuh, tak mampu memberikan arti kehadirannya.
Peristiwa kekerasan massa terhadap jemaah Ahmadiyah juga bisa menjadi contoh. Setelah peristiwa tersebut terjadi, Presiden Yudhoyono menyatakan prihatin atas kejadian tersebut tanpa adanya respon yang tegas. Presiden hanya menyatakan prihatin dan meminta semua pihak untuk menahan diri. Presiden tidak menyatakan dengan tegas bahwa para pelaku kekerasan adalah musuh Negara, karena mereka telah merusak sendi dan fondasi paling vital dalam kehidupan Republik, yakni tegaknya toleransi yang telah susah payah ditegakkan oleh para pejuang kemerdekaan.

Negara seharusnya memahami, bahwa berbagai kejadian yang terkait dengan kekerasan atas nama agama selalu terkait dengan dua aspek, yaitu aspek privat (menyangkut hak asasi warga Negara atas keyakinannya) dan aspek publik (menyangkut tegaknya hukum di ruang publik). Negara harus tegas, bahwa agama atau keyakinan merupakan hak konstitusional yang paling asasi dan wajib dilindungi Negara. Setiap warga Negara wajib menaruh hormat kepada tegaknya hak konstitusional warga Negara tersebut. Karena menyangkut hak konstitusional warga Negara, maka Negara mutlak untuk menjamin terselenggaranya hak tersebut.

Di dalam sambutannya, Martin Manurung, selaku Ketua dari Garda Pemuda Nasdem bertutur “ada empat ciri Negara dianggap gagal, yaitu: hilangnya kendali atas wilayahnya, atau atas monopoli legitimasi penggunaan kekuatan fisiknya, erosi atas otoritas sah untuk membuat keputusan kolektif, ketidakmampuan untuk menyediakan layanan-layanan publik dan ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan Negara-negara lain sebagai anggota penuh pada komunitas Internasional”.

Menurut Guntur Romli, “tema Negara gagal sebenarnya tidak tepat! Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, artinya ada yang sudah dilakukan untuk memperbaiki Negara ini. Tetapi apa yang dilakukan bangsa saat ini, bukannya gagal, melainkan tidak melakukan apa-apa! Negara terlibat, membiarkan terjadinya kekerasan”. Sedangkan menurut Romli, ada tiga hal yang mendasari kegagalan sebuah Negara, yaitu Negara takut dengan kelompok, Negara memanfaatkan jasa-jasa dari kelompok tersebut (politik-ekonomi), dan terakhir, Negara atau Pemerintah menjadi bagian dari kekerasan yang sedang terjadi.

LAPORAN 10 Agustus 2011


MASTODON dan BURUNG KONDOR
“Apa gunanya tingkat ekonomi yang tinggi, kalau perekonomian masyarakatnya saja masih melorot” merupakan salah satu kata yang terlontar dari Jose Carosta, pelaku utama dalam Pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor karya Rendra pada tanggal 11 hingga 14 Agustus 2011 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

W.S Rendra dikenal di Indonesia dan luar negeri sebagai penyair yang sangat penting. Lahir pada tanggal 07 November 1935 di Solo, Jawa-Tengah, dan meninggal 06 Agustus 2009 di Depok, Jawa-Barat. Rendra adalah seorang seniman, memulai pekerjaannya di atas panggung. Ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1967, setelah menyelesaikan pendidikan di The American Academy of Dramatic Arts, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta yang dinamai Bengkel Teater. Kemudian berganti menjadi Bengkel Teater Rendra sejak berpindah ke Depok, Jawa-Barat. Sampai sekarang, Bengkel Teater Rendra terus aktif di Indonesia, menjadi basis kegiatan keseniannya. Grup ini dianggap telah memberi suasana baru dalam kehidupan teater di Indonesia.

Dalam pengendapan selama setahun ini, naskah karya Rendra dibedah lagi kiranya untuk dimaksimalkan guna men-sinergikan keadaan. Ken Zuraida, istri dari almarhum Rendra yang juga salah satu pengelola Bengkel Teater Rendra merasa terpanggil untuk mementaskah lagi naskah ini. Akhirnya, dengan cara militan yang gigih, ia mengumpulkan dukungan dari beberapa anggota senior Bengkel Teater Rendra dan juga para seniman muda potensial yang berdatangan dari Jogja, Salatiga, Makassar, Bogor, Tangerang, Bandung dan Jakarta untuk mementaskan mahakarya Rendra ini.

Nuansa pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor yang konservatif ini disutradarai langsung oleh Ken Zuraida. Dengan didukung oleh tim manajemen produksi: Arif Budimanta (produser eksekutif), Amir Husain Daulay, Edi Haryono dan Rusdy Setiawan Putra. Serta didukung pula oleh aktor utama Totenk Mahdasi Tatang, Awan Sanwani, Cahyo Harimurti, dan Maryam Supraba.

Secara eksplisit, drama teater ini menceritakan sebuah pergulatan sosial politik di Amerika Latin yang sedang didera kontra revolusi. Pemerintah yang berkuasa adalah Pemerintahan tentara yang terlalu berambisi melakukan pembangunan, tapi semua itu dilakukan hanya demi upaya untuk mempertahankan kursi kekuasaan semata. Maka penindasan dimana-mana dilakukan sebagai buah dari ketakutannya kalau saja kelak akan ada pemberontakan yang akan menjadi batu sandungan bagi tercapainya target-target ambisi tersebut. Gerak laku penguasa yang membabi buta itu yang lalu disebut sebagai derak marah para mastodon.

Sedangkan rakyat yang mendambakan hidup damai dalam kewajaran, menderita akibat gelap matanya program kerja Pemerintah mastodon yang serta merta mengatasnamakan pembangunan, lantas dimaknai sebagai burung-burung kondor. Kemiskinan dan ketertindasan akibat kinerja Pemerintah yang diktator dan otoriter tersebut, lebih lanjut menyebabkan terjadinya pergolakan di kalangan revolusioner yang dimotori orang-orang kampus. Mereka sepakat akan menjalankan revolusi.

Namun, tawaran revolusi itu mendapat tentangan dari Jose Carosta, penyair yang berhelat di tengah pergulatan revolusi tersebut. Bersikap tegar, bak batu karang, berdiri di tengah-tengah laksana matahari yang mencerahkan kesadaran. Sosoknya yang kuat bersama penghayatannya mengarungi perenungan yang mendalam berdasarkan empirisme dan ilmu pengetahuan universal telah menjelmakan sikap yang kokoh untuk tidak terpengaruh dan bergeser dari ketetapan mempertahankan prinsip-prinsip kebudayaan.

Setiap revolusi pada akhirnya akan melahirkan sikap yang fanatik atau ekstrim. Sikap ini niscaya kelak akan melahirkan mastodon-mastodon alias penindas-penindas. Dan pada setiap revolusi yang dimenangkan oleh kaum radikal yang fanatis, tak urung akan melahirkan lagi Pemerintahan mastodon.

Pentas dibuka oleh lantunan musik latin yang dibawakan oleh para pemusik seperti Maryam Supraba, Cahyo Harimurti dan kawan-kawan. Didukung dengan kemampuan acting para pemain, terutama Totenk Mahdasi Tatang, yang berperan sebagai Jose Carosta, mampu membuat seluruh penonton berdecak kagum saat bagian dimana ketika Jose melantangkan syair Rendra yang berjudul  Sajak Burung-burung Kondor. Dengan fasih dan didukung kemampuan acting yang luar biasa, Jose mampu memikat perhatian penonton saat pementasan berlangsung. Tidak hanya itu, para pemain senior seperti Iwan Burnani, Awan Sanwani, Ayu B. Nurdin dan yang lainnya patut diacungi jempol atas kepiawaiannya berlakon di atas pentas teater.

LAPORAN 09 Agustus 2011


LAPORAN PENUGASAN
Rubrik            :           Ekbis
Masalah          :           Jual-Beli Merah Putih
Angle              :           Lika-liku bisnis bendera Merah Putih di kaki lima menjelang                                         Tujuh belas Agustusan
Narasumber   :           Achmad Sanusi (pedagang bendera merah putih)
Oleh                :           Winda Destiana
Diam-diam, bendera merah putih telah tampil sebagai komoditi atau mata dagangan yang menarik untuk diperjual-belikan, khususnya di tiap menjelang hari ke-17 bulan Agustus. Sudut-sudut kota macam Jakarta misalnya, mendadak akan diserbu oleh pedagang atau penjual Merah-Putih, baik yang mengasongkannya di kemacetan jalan Ibu Kota, maupun keliling gang-gang pemukiman penduduk dengan mendorong gerobag, bahkan ada yang mangkal atau buka tempat di pinggir-pinggir jalan.

Di tiap acara Agustusan, nyaris di setiap rumah orang Indonesia merasa perlu dan wajib mengibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk nasionalisme cinta tanah air dan untuk memeriahkan perayaan Hari Proklamasi. Menariknya, entah karena koleksi lama sudah mulai lapuk, kusam atau terselip, nyatanya ada saja orang yang tiap tahun mencari dan membeli bendera baru untuk dikibarkan. Sementara di gang-gang perkampungan, umum merayakan hari Proklamasi dengan ‘pameran’ hias rias Merah Putih. Baik dalam bentuk bendera kertas, umbul-umbul, pita hias, hingga pernak-pernik lainnya bernuansa Merah Putih.

Permintaan pasar yang amat besar ini, merangsang pedagang untuk menyiapkan segala keperluan tersebut. Bendera Merah Putih dibuat masal di pabrik-pabrik konveksi ataupun industri rumahan. Juga perlengkapan pendukungnya seperti tiang bambu atau tiang umbul-umbul. Semua menjadi ragam komoditi tujuh belas agustusan yang menarik untuk disimak.

Ditemui di kawasan Benhill Jakarta Pusat, Selasa 09 Agustus 2011, Achmad Sanusi atau yang lebih ingin disapa Uus, memaparkan segala suka duka dalam mengelola bisnis Merah Putih ini.

Sudah berapa lama Anda berbisnis seperti ini?
Sudah lama sekali, semenjak tahun 2000an. Sejak saya tamat SD, saya langsung ke Jakarta dan mulai dagang sama Kakak.

Lokasi Anda berdagang dari tahun 2000an sampai sekarang tetap disini?
Ya. Mangkal disini aja.

Dari jam berapa sampai jam berapa Anda berdagang? Dan sampai tanggal berapa Anda menjajakan barang dagangan Anda ini?
Dari jam 7 pagi sampai jam setengah 6 sore. Sampai tanggal 16 Agustusan.

Lalu, jika musim tujuh belasan ini sudah lewat, apa yang Anda lakukan?
Jualan bubur ayam. Pertama kali dagang sama Kakak ya dagang bubur ayam.

Dari segi penghasilan, lebih menguntungkan berdagang bubur ayam per harinya atau jualan musiman seperti ini?
Ya namanya orang berdagang, kadang lumayan, kadang kurang. Sama aja si mbak, mau jualan bubur ayam atau musiman kayak sekarang.

Dari tahun 2000an sampai saat ini, ada tidak tahun yang omsetnya lebih besar dibanding tahun-tahun lainnya?
Dari tahun 2000 sampai 2008 itu cukup lumayan. Sekarang-sekarang jadi sedikit sepi, bulan puasa sih, jadi yang datang berkurang.

Darimana bendera Merah Putih ini diperoleh? Buat sendiri?
Ada bos besar yang buat, lalu dikirim dari Cirebon ke Jakarta. Selalu seperti itu setiap tahunnya.

Berapa banyak yang dikirim?
Untuk umbul-umbul 2 kodi, bendera Merah Putih juga 2 kodi, kalau untuk bambu-bambuan sekitar 1000 bambu.

Anda memang berasal dari Cirebon? Datang ke Jakarta khusus berdagang seperti ini atau memang sudah menetap lama?
Iya saya asli Cirebon. Tapi ngontrak di Cempaka Putih. Jualan bubur ayam juga disana, Cuma jualan bendera ini saja yang di daerah sini.

Kenapa jualan bendera tidak di Cempaka Putih saja?
Wah disana juga sudah banyak temen-temen yang jualan Mbak. Saya lebih baik cari tempat lain, agak jauh tapi ya daripada bersaing dengan teman sendiri.

Lalu, bagaimana Anda membawa semua atribut-atribut ini untuk lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal Anda di Cempaka Putih?
Pertamanya semua barang-barang ini dikirim dari Cirebon beserta gerobag-gerobagnya, saya naik angkot, trus saya titipin gerobag sama bambu nya di mesjid sebelah saya ini, di halamannya, trus bendera-bendera saya masukin karung, saya bawa pulang.

Variasinya apa saja? Dan biasanya apa yang paling banyak dicari pengunjung?
Ya ini, ada Bendera Merah Putih beda-beda ukuran, umbul-umbul, bendera besar biasanya untuk gedung-gedung, bambu, bendera merah putih kecil yang dari plastik ini, dan benangnya. Yang paling banyak dicari ya biasanya umbul-umbul.

Berapa harga dari masing-masing produk?
Kalo bendera Merah Putih ukuran semeter dua puluh itu 15 ribu, kalo yang ukuran sembilan puluh 12 ribu, kalo yang semeter lima puluh 20 ribu, kalau untuk bendera yang dipajang di gedung itu harganya paling mahal, bisa 200 ribu, ukuran 10 meter. Untuk bambu harganya 10 ribu, umbul-umbul yang ukuran dua meter setengah 25 ribu, kalo yang 3 meter 30 ribu. Bendera kecil-kecil ini harganya 12 ribu isinya 100, benangnya 3 ribuan.

Bila ada barang yang rusak maupun tidak laku selepas tujuh belas agustusan, barang tersebut dikemanakan? Disimpankah?
Dikembalikan ke bos besarnya di Cirebon, dia yang membetulkan jika ada yang rusak, trus disimpan untuk dijual lagi taun depannya.

Kenapa lebih memilih untuk dagang tetap di pinggir jalan seperti ini dibanding berkeliling dari satu komplek ke komplek lain dengan gerobag?
Kalau keliling capek Mbak. Memang sih pendapatannya lumayan kalo keliling daripada menetap disini. Cuma saya lebih suka nunggu dan jaga dagangan di pinggir jalan kayak sekarang.

Apa suka duka selama menjalankan usaha ini? Pernah kena penertiban oleh Trantib?
Ya cuaca panas, namanya juga dagang emperan gini, gak ada aling-alingan penutup, apalagi sekarang bulan puasa, kerasa panasnya, hehehe. Alhamdulillah selama dagang disini ga pernah kena trantib sama sekali. Kalau tempat lain gak tau. Kalo suka nya kalo penghasilannya lagi lumayan, lagi rame, seneng jadinya. Kadang kalo rame dapet borongan bisa satu juta, tapi kalo sepi ya cuma 50 ribu.

LAPORAN 08 Agustus 2011


LAPORAN PENUGASAN
Rubrik            :           COVER STORY
Masalah          :          
Angle              :          
Narasumber   :           Hanta Yuda
Oleh                :           Winda Destiana
Bagaimana tanggapan Anda dengan kehadiran Partai-partai Politik baru saat ini, dan bagaimana peluang mereka pada Pilpres 2014 mendatang?
Pertama, begini ya, karena mendirikan Partai Politik berserikat berkumpul itu dijamin oleh konstitusi. Di dalam Undang-undang Dasar itu diberi kebebasan, dalam arti tidak dilarang. Meskipun kemudian di dalam Undang-undang Partai Politik ada mekanisme persyaratan harus mengikuti verifikasi dan seterusnya. Partai-partai baru ini ada tantangan terdekat dan terberat untuk dihadapi, yang pertama adalah verifikasi, lolos verifikasikah mereka. Kalau di undang-undang parpol kan yang paling memberatkan itu  dibandingkan dengan Pemilu 2009 kemarin untuk 2014 nanti setiap parpol harus mempunyai kepengurusan di setiap provinsi. Merupakan tantangan terberat dan terdekat bagi Nasdem maupun Partai SRI, Nasrep dan lain-lain sebagainya. Nah fokus saja di satu itu. Melihat apakah partai mempunyai kekuatan atau tidak bisa dilihat dari kekuatan jaringannya. Yang kedua, kalau ternyata berhasil lolos, tantangan kedua terdekat adalah apakah partai ini berhasil menggaet menarik konstituen atau massa dalam tingkat atau jumlah partai yang sangat banyak ini, merupakan tantangan untuk partai-partai baru yang muncul di saat situasi tingkat kepercayaan  masyarakat di negeri ini sangat rendah sekali. Kehadiran para partai baru ini membuat pemilih jadi agak sulit ya. Tetapi ada juga peluangnya. Karena rendahnya keterikatan simpati publik masyarakat terhadap partai sangat rendah, tingkat kesetiaan massa kepada partai rendah, artinya masa mengambangnya lebih besar. Nah disinilah peluang partai baru untuk menggaet, apalagi setelah melihat popularitas Demokrat merosot. Kalau partai-partai baru berhasil dan mampu menawarkan sesuatu yang baru, yang lebih menarik, lebih inovatif dan lebih menjanjikan, membangun harapan baru bagi masyarakat, itulah peluang sekaligus tantangannya. Kalau semua itu berhasil, mau partai Nasdem, partai SRI, Nasrep dan partai baru lainnya, ujian selanjutnya adalah berhasil lolos di Parliamentary Treshold, ambang batas untuk masuk parlemen.

Bagaimana cara setiap partai untuk menarik minat pemilih nanti, apakah dengan memunculkan tokoh-tokoh yang berkompeten?
Nah itu, kalau saya melihat, ada 4 motif mereka dalam mencari atau menarik massa. Partai-partai baru ini kalau diamati, pertama, figur-figur, itu yang ditawari atau diusung oleh partai SRI. Dari awal mereka menjual figur Sri Mulyani, dan itu mengulang strategi dari Demokrat pada Pemilu 2004. Tetapi belum tentu juga menarik. Sri Mulyani kan tidak seperti SBY, apalagi masih terkait kasus century yang belum terselesaikan. Selanjutnya, kekuatan financial juga ikut mempengaruhi. Inilah yang dilakukan partai Nasrep yang khusus dibentuk untuk mengusung Tommy Soeharto. Mereka hanya mengandalkan itu, jaringannya tidak kuat, figurnya juga tidak kuat. Kemudian, motif selanjutnya dengan menawarkan perubahan seperti yang dilakukan oleh partai Nasdem. Dan yang terakhir adalah parta-partai pecahan dengan menjual figur simpatik setiap partai kemudian ingin menarik konstituen di partai lainnya, seperti yang dilakukan partai Yenni Wahid. Pecahan dari PKB, dia buat PKBI (Partai Kebangkitan Bangsa Indonesia), itulah empat motif saya kira sebagai cara untuk menarik antusias masyarakat terhadap sebuah partai politik. Semua mempunyai peluang yang sama. Kembali ke partai SRI, mereka ini menawarkan atau mengusung dua hal, yaitu integritas dan interkualitas. Mengingat kasus century yang masih belum selesai sampai saat ini, secara hukum mungkin Sri Mulyani bisa aman, tetapi secara politik dia bersalah. Seperti yang dikatakan partai dan DPR. Sehingga hal ini bisa menjadi amunisi atau senjata bagi lawan politiknya. Lalu, dari segi intelektualitas kurang menarik ketika dilempar ke pasar publik. Karena bagi kelas menengah keatas barangkali menarik, tetapi cukup menengah ke bawah itu kurang. Paling tidak perlu diadakan pengujian terlebih dahulu. Intinya, jangan hanya menawarkan atau menjual figur saja, tetapi juga harus menjual gagasan politik.

Bagaimana dengan peluang dari masing-masing calon? Serta kelebihan dan kekurangan para calon tersebut?
Kalau dikatakan berat, untuk kondisi saat ini cukup berat ya. Intinya ya tadi, pertama kondisi masyarakat, kedua kalau mereka mempunyai inovasi, katakanlah partai-partai lama pasti lebih berpengalaman kan? Mereka sudah belajar dari pengalaman. Itulah tantangannya. Tetapi tidak menutup peluang mereka juga. Kemudian tingkat kesetiaan pemilih partai itu kecil, hanya sekitar 20 persen. Belum tentu massa yang memilih partai A pada pemilu kemarin akan kembali memilih partai tersebut. Jadi massa mengambang ini yang bisa dimanfaatkan oleh partai-partai baru. Peluangnya seperti apa masih dibilang relatif. Nasdem terlihat relatif potensial dalam konteks jaringan. Kalau SRI barangkali akan menghadapi kemungkinan cukup berat di verifikasi. Tetapi paling tidak partai baru harus punya selain figur, persyaratan untuk lolos verifikasi, juga harus mempunyai kekuatan financial dan yang terakhir mempunyai gagasan politik. Selanjutnya barangkali partai harus mempunyai semacam media untuk mempublish segala kegiatan mereka. Kalau ditanya peluangnya, semua tetap berpeluang dengan kondisi yang tadi saya jelaskan. Tetapi tantangannya juga tidak mudah.
Kemudian berbicara tentang kelebihan serta kekurangan dari para calon yang diusung, lebih baik sekarang kita bicara tentang partainya dulu ya, kalau dari Nasdem, dari segi fasilitas mereka unggul, mereka mempunyai ormas, mempunyai jaringan yang kuat di daerah-daerah, juga jika gagasan politiknya Restorasi Indonesia itu diturunkan menjadi program partai secara konkret itu sangat menarik. Selanjutnya partai Nasrep, saya tidak melihat potensi, kecuali mereka mengandalkan kekuatan financial semata. Untuk partai SRI potensinya mungkin dari para kumpulan intelektual disana dan figur dari Sri Mulyani itu sendiri. Kalau mereka bisa menumpaskan masalah century sampai selesai, bahasanya lebih merakyat tidak elitis, massa akan melihat potensi lebih di Nasdem dan SRI dibanding partai lain. Untuk tokoh saya rasa agak relatif kelebihan dan kekurangannya. Untuk Nasrep, yang secara gamblang mengusung Tommy Soeharto, selain dia mantan Narapidana, koruptor, dari track recordnya, dari gagasan yang dia bawa, saya tidak tau apakah massa akan tertarik dengan partai ini. Saya hanya menangkap kekuatan financial saja di partai Nasrep ini. Sebagai putra dari Alm. Soeharto bisa pula menjadikan kekuatan sekaligus kelemahan buat Tommy untuk maju pada Pilpres nanti. Nah untuk Sri Mulyani, dia punya potensi atau pengalaman di pemerintahan. Khususnya dalam segi perekonomian, dia juga punya jaringan internasional yang baik. Asal mampu menuntaskan century dan intervensi asing bisa menjadi amunisi yang nantinya dapat menyerang balik dirinya. Untuk Nasdem, terdengar Surya Paloh yang akan menjadi tokoh, tetapi ini masih belum pasti ya, saya kira sebagai pengusaha media yang sukses, punya jaringan kuat di dalam kader-kader Golkar, kemudian dilihat dari gagasan politiknya. Agak sulit untuk mengatakan mana yang kuat dari para calon tersebut karena masih terlalu dini untuk membicarakan masalah ini. Semua harus diuji, bagaimana penerimaan publik terhadap mereka.

LAPORAN 02 Agustus 2011


LAPORAN PENUGASAN
Rubrik            :           Sospol
Masalah          :           Wacana Pembubaran KPK
Angle              :           Seberapa penting peran KPK saat ini
Narasumber   :           Johan Budi
Oleh                :           Winda Destiana
Beberapa hari menjelang puasa, Jum’at 29 Juli 2011, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih baik dibubarkan jika memang tak ada orang-orang yang kredibel dan pantas untuk duduk di lembaga ad hoc penegakan hukum ini. Menurut Ketua DPR Marzuki Alie, lembaga ad hoc tidak perlu dipertahankan lagi jika memang tak dapat lagi menjalankan tigas dan wewenangnya dengan baik. Pasalnya, selama ini KPK diharapkan memberikan hasil yang signifikan dalam memimpin upaya pemberantasan korupsi di tingkat legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Namun sampai saat ini KPK dinilai tidak bisa memenuhi harapan tersebut.

Lalu, sebenarnya seberapa penting peran KPK saat ini? Ditemui di ruangannya yang terletak di lantai 3 Gedung KPK Jln. HR Rasuna Said Kav C-1 Jakarta 12920, Senin 01 Agustus 2011, Johan Budi selaku juru bicara KPK menjawab pertanyaan tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana dengan wacana pembubaran KPK menurut Anda?
Ya menurut saya gini, kami disini sempat terkejut juga mendengarnya. Kenapa tiba-tiba muncul analogi yang menyebutkan bahwa kalau pimpinan KPK bermasalah, KPK dibubarin. Kalau logikanya seperti itu, lembaga-lembaga yang terdapat masalah ya bubar semua kalau begitu! KPK ini kan dibentuk dari semangat reformasi yang akhirnya sepakat antar Pemerintah dan DPR untuk membentuk KPK. Sehingga kalau ide pembubaran itu terjadi tentu akan berlawanan dengan semangat reformasi yang saya katakan tadi. Bahkan Presiden SBY sudah menyampaikan beberapa kali untuk mendukung kinerja KPK.

Ada tuduhan juga KPK sarat kepentingan politik, benar seperti itu?
Ya tergantung yang melihatnya. Indikasi nya apa.

Lalu, haruskah KPK bubar?
Ya tanyakan ke rakyat aja! DPR juga tidak semuanya setuju kan!

Lantas bagaimana dengan usulan pemberian maaf bagi koruptor yang digelontorkan oleh Marzuki Alie?
Saya tidak memahami konteksnya ya. Kenapa kok tiba-tiba dia ingin memaafkan para koruptor itu. Tapi pasti ada maksud dari ucapannya tersebut. Nah itu yang harus ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, saya tidak tau menau dan tidak ingin mereka-reka. Sekali lagi saya bilang, hal tersebut sangat berlawanan dengan semangat reformasi.

Setujukah Anda, jika KPK diamankan melalui amandemen UUD 1945?
Setuju saja. Kalau kita mereview  ke luar ya, lembaga-lembaga KPK di negara seperti Hongkong dan Singapura, mereka masih tetap berdiri dan menjalankan fungsinya. KPK di Indonesia ini kan baru berdiri delapan tahun. Saya setuju kalau memang hal tersebut hasil dari kesepakatan bersama.

Perlukah Komisi Pengawasan di KPK?
Bukan komisi pengawasan, tetapi di KPK itu sekarang ada Komisi Etik.

Tujuan dari Komisi Etik KPK itu untuk apa?
Melihat sejauh mana informasi yang beredar itu benar atau tidak, makanya perlu dibentuk badan ini.

Mulai kapan Komite Etik tersebut diberlakukan?
Mulai hari ini sejak di umumkan dalam press converence tadi siang sekitar jam 2.

Kira-kira, seberapa efektif peran Komite Etik KPK dalam membongkar oknum KPK yang main mata dengan para koruptor?
Ya dilihat saja dulu bagaimana nanti, kan baru mulai berjalan hari ini. Informasi yang beredar saat ini kan dari omongan seseorang yang belum tentu benar. Statusnya pun masih menjadi buronan KPK. Dia juga belum pernah kasih berkas-berkas ke KPK.

Apakah nantinya Komite Etik KPK ini dapat menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat?
Ya tergantung bagaimana kinerja dari Komite Etik ini nantinya. Sekarang kan ada jaminan terbuka, transparan, nah darisitu masyarakat bisa menilai sendiri seperti apa kinerja Komite Etik ini. Anggota Komite Etik ini pun berasal dari luar KPK, salah satunya Syafi’i Maarif.

Sebenarnya, penyakit yang menggerogoti KPK berada di titik mana? Bawahan seperti para penyidik? Atau justru berada di unsur pimpinan KPK?
Ya selama ini belum ada persoalan. Itu kan gara-gara Nazaruddin ngomong seperti itu lantas disimpulkan apa yang diucapkan semuanya benar dong! Masyarakat harus diberi pemahaman yang utuh bahwa belum tentu yang disampaikan Nazaruddin itu benar!

Lalu, dengan adanya KPK selama ini, apa sudah cukup signifikan dalam memberantas korupsi yang terjadi?
Tergantung dari sudut pandang mana ya. Tergantung masyarakat juga melihatnya.

Bagaimana dengan keinginan KPK ada hingga tingkat daerah? Dapatkah integritas lembaga tersebut bisa berjalan sama rata?
Ya sampai hari ini kan KPK belum ada di daerah. Keinginan tersebut tidak disetujui kan oleh DPR. Alasannya apa, ya silahkan tanya sendiri ke DPR!

Lalu, kenapa Anda kemarin sempat mengajukan surat pengunduran diri? Apa alasannya?
Jadi gini, kemarin itu yang pertama saya kan mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK. Yang kedua, Pak Busyro tiba-tiba mengumumkan terkait dengan pertemuan dua tahun lalu dengan Nazaruddin dan Pak Ade. Saya ini kan sebenarnya bukan subjek. Pertemuan dua tahun lalu itu kan karena Nazaruddin itu anggota DPR bukan tersangka, bukan buronan, dan gak ada kasus tentang dirinya. Kasus Sesmenpora ini terkuak kan baru April 2011 kemarin. Intinya gak ada yang salah, Pak Ade bertemu dengan dia. Kemudian Pak Ade minta didampingi saya, saya juga kan humas saat itu. Cuma saya tidak tau itu Nazaruddin apa bukan. Dulu kan orang tidak ada yang tau Nazaruddin. Saya juga gak tau namanya siapa yang ditemui sama Pak Ade. Nah karena pernah melakukan pertemuan itu lah seolah-olah sudah pasti bersalah. Kemudian saya mengajukan pengunduran diri untuk bisa bekerja lebih baik lagi, memberikan kesempatan untuk yang lain.

Memang, apa yang akan Anda lakukan jika menjadi pimpinan KPK?
Ya ga usah dibahas lagi, saya kan tidak lolos.

LAPORAN 29 Juli 2011


Pameran Seni Rupa Kontemporer Internasional Jakarta Biennale Kembali Meruang di Jakarta
“Kebebasan itu menurut gue, ketika umat muslim melakukan sembahyang di masjid dengan tenang tanpa takut adanya pengeboman”. Merupakan kalimat yang keluar dari Leonardo, salah satu pengisi acara dalam acara konser Blues For Freedom yang dilangsungkan pada hari Jum’at 29 Juli 2011 bertempat di Plaza Teater Kecil Taman Ismail Marzuki mulai pukul 16.00 hingga selesai.
Perhelatan pameran seni rupa kontemporer dua tahunan Jakarta Biennale kembali meruang di tempat-tempat publik Jakarta. Jakarta Biennale ke-14 (pertama kali diselenggarakan pada 1968) dan kali ini mengusung tema “Jakarta Maximum City: Survive or Escape”, sebuah kondisi kota yang sesak namun bagi banyak orang justru dianggap tetap penuh daya tarik. Berbeda dari perhelatan sebelumnya, kali ini Dewan Kesenia Jakarta sebagai penyelenggara mendapuk 2 jurnalis, yaitu: Ilham Khoiri (harian Kompas) dan Seno Joko Suyono (majalah Tempo), serta Bambang Asrini Widjanarko sebagai kurator pameran ini. Jakarta Biennale #14.2011 “Maximum City”, merupakan nama resmi dari pameran seni rupa kontemporer ini. Ada sekitar 200 perupa baik dari Indonesia maupun mancanegara yang akan unjuk karya di berbagai lokasi di Jakarta. Tidak hanya seni rupa, pertunjukan musik, tari, teater, pemutaran film dan sastra turut menjadi rangkaian event parallel yang akan memperkaya pengalaman masyarakat dalam berkesenian. Puncak dari perhelatan ini pada November 2011 hingga Januari 2012 mendatang. Blues For Freedom merupakan event parallel perdana dengan menghadirkan konser bertajuk. Acara ini merupakan kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dengan Galeri Foto Jurnalistik Antara dan G Production.
Blues adalah manifesto ungkapan suara hati. Ketika hak asasi tertindas, saat kemerdekaan terrenggut, manakala demokrasi ternoda, maka Blues menjadi bahasa yang menetes tanpa henti untuk memecahkan karang pander dan kelu. Kondisi ini merespon dari beberapa kasus persekongkolan politik yang memuakkan selain pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia. Terkuaknya kasus korupsi pembangunan infrastruktur oleh politikus, korupsi pajak, pelecehan TKI, suap hakim, jaksa dan aparatur penegak hukum lain, hingga penyerangan atas nama agama.
Untuk itulah Blues hadir di tengah-tengah perpolitikan Indonesia yang carut-marut sekarang ini untuk menjadikan bahasa perlawanan menentang angkara kepongahan serta mengekspresikan kebebasan jiwa agar: Merdeka untuk beragama, Merdeka untuk hidup layak, Merdeka untuk berekspresi, Merdeka dari rasa takut. Blues diharapkan mampu meneriakkan hak-hak demokrasi yang tak lagi milik warga negara Indonesia yang merdeka.
Dalam konser yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya sepeser pun ini diisi oleh penampilan dari sederet musisi Indonesia yang peduli akan kondisi bangsa saat ini. Mereka adalah, Gugun Blues Shelter, Navicula, Leonardo, Efek Rumah Kaca, Dialog Dini Hari, Getah feat Maya Hasan, Flowers, dan Bangku Taman. Selain mereka sebagai pengisi acara, mahasiswa Institut Kesenian Jakarta atau yang biasa dikenal dengan sebutan IKJ juga turut berpartisipasi dengan memberikan berbagai macam kreatifitasnya di bidang seni.
Acara yang dimulai sekitar pukul 7 malam, menyedot perhatian kaum muda untuk ikut menikmati suguhan khas musik Blues yang dimainkan oleh Leonardo. Tampil sebagai pembuka, Leonardo mampu membuat penonton cukup antusias menikmati musik yang sedang melantun. Dengan berakhirnya lagu yang dimainkan Gugun Blues Shelter, maka berakhir pula acara perdana konser Blues For Freedom ini, diharapkan bukan sebagai akhir dari perjuangan menuntut hak-hak demokrasi serta kebebasan yang ingin direbut kembali untuk warga Indonesia yang telah merdeka.

LAPORAN 30 Juni 2011


Solo Exhibition – Cai Zhisong “Kenikmatan Yang Beracun”
Seni selalu menampilkan keindahannya tersendiri. Seolah ia tak pernah habis di telan masa. Banyak orang berpendapat, seni dapat membersihkan jiwa dari debu-debu kehidupan. Dengan karya seni pulalah, hidup kita merasa lebih berwarna, salah satu seni yang sangat menarik adalah karya seni rupa patung. Seniman patung terkenal asal China, Cai Zhisong pada 17 Juni sampai 26 Juni 2011 lalu telah memajang karya seni patung yang mengambil empat tema. Custom to Motherland, Ode to Motherland, Refinement to Motherland dan Rose.

Cai yang mengambil dasar dari periode Dinasti Qin dan bisa disebut sebagai serial “Tanah Air” adalah jawaban atas ketiga tema tersebut. Namun Rose diangkat Cai ke dalam tema pamerannya kali ini karena menurutnya mawar melambangkan cinta dan penuh pengharapan dari cinta itu sendiri. Mawar yang terkenal dengan warnanya yang merah merekah, kini disulap oleh tangan dingin Cai menjadi warna abu-abu metal yang membuat kesan hening serta hampa pada mawar tersebut. "Cinta itu seperti bunga mawar timah yang merekah ini, kenikmatan yang beracun," kata Cai Zhisong.

Pameran yang berlangsung selama 10 hari ini bertempat di Museum Nasional Jakarta. Dalam karyanya ini, ia sepenuhnya menggunakan timah dan perunggu sebagai bahan dasar pembuat patung tersebut. Karya yang dibuatnya ini merupakan hasil dari proses pemikiran yang tidak instan dan memakan waktu yang tidak sebentar. Karya seni Cai menggabungkan antara perspektif modern dan masa lampau. Tak heran jika pengunjung merasakan sense tersendiri begitu melihat karya yang dipamerkannya ini.