CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 11 Oktober 2011

Laporan 04 Oktober 2011 part 2

L4 Lupus
Ditengah perfilman Indonesia yang kini lebih cenderung ke horor seksualitas, Damien Dematra Production hadir di tengah-tengah perfilman dengan menyajikan satu suguhan baru yang cukup menggebrak. Dengan mengangkat tema Lupus, film yang juga di tulis dalam novel ini berhasil mendapatkan rekor dari MURI dan Royal World Records Inggris. Dalam pembuatan film semi dokumenter ini, Damien merangkap sebagai sutradara sekaligus produser, penulis naskah, penata musik, dan posisi lainnya. Kurang lebih ada 14 jabatan yang dikerjakannya sendiri.
Damien mengangkat tema ini sesaat ketika mendengar sambutan Menteri Kesehatan RI pada saat peringatan Hari Lupus Sedunia yang jatuh pada tanggal 7 Mei 2011 lalu di Taman Menteng. Dalam sambutannya tersebut, disebutkan 1.5 juta orang Indonesia yang terkena penyakit Lupus, namun hanya satu persen orang yang sadar bahwa dia terkena penyakit ini. Kurangnya kewaspadaan dan kesadaran akan bahaya Lupus menjadi inspirasi Damien dalam menggarap film kemanusiaan ini. Tujuannya agar masyarakat Indonesia lebih peduli dan waspada, khususnya perempuan agar lebih berhati-hati lagi. Penyakit Lupus bisa menyerang siapa saja tanpa disadari sehingga dijuluki sebagai penyakit seribu wajah. Penyakit ini lebih mudah diatasi apabila terdeteksi lebih dini, sehingga menjadi penting film ini dapat ditonton oleh masyarakat luas.
Film L4 Lupus ini atau Love For Lupus menceritakan tentang perjalanan hidup seorang gadis cantik bernama Atikah yang berprofesi sebagai Dokter. Atikah hidup berdua dengan Mutiara, adiknya yang cacat. Tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, dan tidak bisa berbicara namun hanya mampu merasakan hadirnya orang di sebelahnya. Karena alasan inilah Atikah menjadi seorang dokter, karena ia ingin mengobati adiknya yang sakit. Sampai pada suatu hari keadaan merubah segalanya. Mutiara atau yang akrab disapa oleh Dokter Atikah Mumut tiba-tiba harus berhadapan dengan penyakit Lupus. Mumut yang tidak mampu bertahan melawan penyakitnya ini, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami kejang-kejang yang cukup parah. Dokter Atikah frustasi, tidak sanggup menerima kenyataan bahwa adik kesayangannya telah tiada. Sebagai pelampiasan untuk melupakan rasa kehilangannya yang mendalam, Dokter Atikah bekerja tak kenal waktu. Sampai suatu ketika kondisi fisiknya mulai melemah dan setelah di diagnosa positif mengidap penyakit Lupus.
Adalah Dokter Adam. Dokter pindahan dari Manado yang diam-diam mengaggumi Dokter Atikah. Dokter Adam sangat perhatian dan peduli sekali dengan keadaan Dokter Atikah. Rela berkorban dan selalu menyemangati Dokter Atikah agar kuat dan bertahan melawan penyakitnya. Dalam keadaan seperti ini, Dokter Atikah berusaha untuk menjauhkan diri dari Dokter Adam. Karena ia tak ingin cinta Dokter Adam yang terlalu dalam kepada dirinya akan kandas begitu penyakit Lupus tersebut perlahan menggerogoti sel-sel imunitas dan akhirnya merenggut nyawanya. Namun cinta Dokter Adam yang terlalu kuat kepada dirinya mampu melumpuhkan benteng kokoh yang telah dibangun. Dokter Adam tak henti memberikan semangat hidup hingga kondisi Dokter Atikah membaik. Dokter Adam pun akhirnya melamar Dokter Atikah, mereka pun akhirnya menikah dan dikaruniai seorang gadis kecil yang diberi nama Mumut.
Ganasnya penyakit Lupus yang ada di tubuh Dokter Atikah ternyata membuat ketahanan tubuhnya tak berlangsung lama. Nyawanya pun tak berhasil diselamatkan. Kepergian Dokter Atikah membuat suami dan anaknya merasa kehilangan yang teramat mendalam. Dan pada akhirnya mereka mampu mengikhlaskan kepergian Dokter Atikah.
Film semi dokumenter yang terinspirasi dari kisah-kisah nyata para penderita Lupus ini berdurasi kurang lebih dua jam ini dibintangi oleh artis-artis pendatang baru seperti Virda Anggraini sebagai Dokter Atikah, Natasha Dematra sebagai Mutiara, Lucky Moniaga sebagai Dokter Adam. Ada pula artis-artis yang sudah cukup dikenal ikut main dalam film ini, Ayu Azhari sebagai Dokter Cakra, Anna Tarigan sebagai suster Carmelia, Irul Luthan sebagai Prof. Agung. Didukung pula oleh Ketua Yayasan Lupus Indonesia serta anak laki-laki nya yang juga terkena Lupus dan para ODAPUS (sebutan untuk para penderita Lupus) ikut bermain dalam film ini. Pembuatan film ini menghabiskan waktu sekitar satu minggu dan total biaya dibawah satu Milyar. Lokasi diambil di daerah Jawa Barat dan Jakarta. 

0 komentar:

Poskan Komentar